Akan kususun untaian kalimat indah diatas kertas yang tepampang dihadapanku, tentang sebuah kasih yang kudapat dari seorang wanita yang telah mengandungku selama lebih dari sembilan bulan,
Sebuah untain kata tentang seberapa besar rasa cintanya padaku, tentang pengorbanan yang dia berikan untuk diriku yang telah menjadi bagian dari hidupnya disaat jasad ini masih tak berbentuk.
Tapi tetap saja kertas ini masih kosong tak tergores noda tinta sedikitpun; bukan karna aku tak tahu rasa cintanya padaku, tapi karna cintanya yang begitu besar, yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Tak ada kata yang pantas mengambarkan seberapa besar rasa cintamu kepadaku.
Tak ada kata yang pantas untuk mengungkapkan seberapa hebat kesabaranmu dalam menuntunku menjadi diriku yang sekarang ini,
Sekali lagi, kertas ini tetap putih, berulang kali aku memikirkan kata yang pantas untuk menggambarkan kehebatanmu, ibu, masih tak dapat kutemukan juga.
Ibu, aku sayang kepadamu
Kamis, 25 November 2010
celetukan malam
"Halah!! sudahlah... Tiada teman dalam kesendirian malam ini juga tak apa, mungkin tuhan pun sudah jenggah dengan semua alur kesedihan yang selalu kamu umbar, biar sajalah yang sendiri tetap sendiri, supaya tahu apa itu arti kesendirian. Biar tidak kaget disaat mati nanti!!
Mayat-mayat pun tidur sendirian tanpa kekhawatiran didalam liang lahat sana.
Lalu untuk apa takut tidur sendirian dibawah selimut kenyamanan?!
Oh iya, aku lupa! kamu itu manusia juga, belum menjadi mayat! Jadi pantas aja selalu khawatir!
Hahahahaha..."
Mayat-mayat pun tidur sendirian tanpa kekhawatiran didalam liang lahat sana.
Lalu untuk apa takut tidur sendirian dibawah selimut kenyamanan?!
Oh iya, aku lupa! kamu itu manusia juga, belum menjadi mayat! Jadi pantas aja selalu khawatir!
Hahahahaha..."
sajak
aku menunggu diantara sepi dan cahaya malam, mencari dan menunggu tanda akan kehadiranmu datang didua puluh malam kudus,
Aku memang tak lagi suci seperti dulu,
Tak seteguh pendirianku yang dahulu aku kibarkan layaknya bendera kemenangan diatas kastil agung itu.
Aku berubah ketika sang waktu datang berkunjung, terlena dengan tipu daya disaat bercengkrama dengan dirinya.
Haruskah aku menyalahkan sang waktu ketika kamu berkecup mesra dialtar mewah kebahagian?
Atau Haruskah aku menyalahkan dirimu yang membuat kesempatan hal itu terjadi?
Atau kau mau aku untuk menyalahkan diriku sendiri yang tak cukup kuat menjaga imanku karena terlena dengan buaian sentuhan dari sang waktu?
Jangan kau palingkan muka mu, aku disini menunggu bak pohon kering yang tak pernah tersentuh air, aku hanya mengharapkan air hujan yang dapat membasuh dahagaku, sedang aku berada di tanah tandus dimana hujan hanya menjadi dongeng sebelum tidur.
Katakan apakah aku salah?
Aku memang tak lagi suci seperti dulu,
Tak seteguh pendirianku yang dahulu aku kibarkan layaknya bendera kemenangan diatas kastil agung itu.
Aku berubah ketika sang waktu datang berkunjung, terlena dengan tipu daya disaat bercengkrama dengan dirinya.
Haruskah aku menyalahkan sang waktu ketika kamu berkecup mesra dialtar mewah kebahagian?
Atau Haruskah aku menyalahkan dirimu yang membuat kesempatan hal itu terjadi?
Atau kau mau aku untuk menyalahkan diriku sendiri yang tak cukup kuat menjaga imanku karena terlena dengan buaian sentuhan dari sang waktu?
Jangan kau palingkan muka mu, aku disini menunggu bak pohon kering yang tak pernah tersentuh air, aku hanya mengharapkan air hujan yang dapat membasuh dahagaku, sedang aku berada di tanah tandus dimana hujan hanya menjadi dongeng sebelum tidur.
Katakan apakah aku salah?
Langganan:
Komentar (Atom)
