Kamis, 25 November 2010

sajak

aku menunggu diantara sepi dan cahaya malam, mencari dan menunggu tanda akan kehadiranmu datang didua puluh malam kudus,

Aku memang tak lagi suci seperti dulu,
Tak seteguh pendirianku yang dahulu aku kibarkan layaknya bendera kemenangan diatas kastil agung itu.

Aku berubah ketika sang waktu datang berkunjung, terlena dengan tipu daya disaat bercengkrama dengan dirinya.

Haruskah aku menyalahkan sang waktu ketika kamu berkecup mesra dialtar mewah kebahagian?
Atau Haruskah aku menyalahkan dirimu yang membuat kesempatan hal itu terjadi?
Atau kau mau aku untuk menyalahkan diriku sendiri yang tak cukup kuat menjaga imanku karena terlena dengan buaian sentuhan dari sang waktu?

Jangan kau palingkan muka mu, aku disini menunggu bak pohon kering yang tak pernah tersentuh air, aku hanya mengharapkan air hujan yang dapat membasuh dahagaku, sedang aku berada di tanah tandus dimana hujan hanya menjadi dongeng sebelum tidur.

Katakan apakah aku salah?

Tidak ada komentar: